5 Tantangan Pertama Kali Mengajar Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di Sekolah Luar Biasa (SLB)

By | November 6, 2017

Berikut ini adalah 5 tantangan yang penulis alami ketika pertama kali mengajar Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di Sekolah Luar Biasa (SLB). Artikel ini ditulis untuk berbagi pengalaman bagi anda yang mungkin baru pertama kali mengajar di SLB setelah menyelesaikan pendidikan di Universitas atau perguruan tinggi.

5 Tantangan Pertama Kali Mengajar Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di Sekolah Luar Biasa (SLB)

5 Tantangan Mengajar Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di Sekolah Luar Biasa (SLB) via gcpsjobs.org

Semua orang pasti pernah menemui tantangan dimanapun berada. Mulai dari saat seseorang masih menjadi anak-anak maupun sudah mempunyai pekerjaan seperti guru, tentara, dokter, pedagang, petani, dan pekerjaan lainnya. Sebagai contoh hal kecil seorang anak yang akan berangkat ke sekolah memiliki tantangan untuk mengatur waktu bagaimana harus bangun tepat waktu, kemudian mandi, memakai pakaian dan berangkat ke sekolah tepat waktu. Contoh lain adalah seorang tentara yang ditempatkan di tempat tugas baru, ia memiliki tantangan bagaimana menyesuaikan kondisi di lingkungan baru maupun kondisi masyarakatnya.

Sekedar berbagi pengalaman, inilah 5 tantangan yang penulis hadapi ketika pertama kali mengajar anak berkebutuhan khusus (ABK) di Sekolah Luar Biasa (SLB).

  1. Bertemu dengan rekan kerja baru

Tantangan pertama yang penulis hadapi ketika menjadi guru di SLB yakni bertemu dengan rekan kerja baru, seperti Kepala Sekolah, sesama guru, maupun karyawan di sekolah. Sebagai orang baru, kita tidak boleh asal berbicara maupun bertingkah karena tentu kita belum mengetahui karakter setiap orang. Jangan sampai ketika berbicara malah membuat tersinggung sesama rekan kerja walaupun kita tidak bermaksud untuk menyinggung. Namun seiring berjalannya waktu kita dengan sendirinya akan semakin akrab dengan sesama rekan kerja telah mengetahui masing-masing karakter.

Kita harus juga menghormati sesama rekan kerja baik kepada sesama rekan yang lebih tua maupun pada rekan yang lebih muda. Apabila kita sudah bisa menghormati orang, tentunya orang lain juga demikian, akan menghormati kita pula.

Baca Juga  Contoh Diagnostik Kesulitan Belajar dan Pengajaran Remedial
  1. Bertemu dengan siswa yang unik

Disini penulis menulis kata “unik”, kata yang saya maksud tersebut bukan sebuah kata yang negatif. Penulis berpendapat bahwa setiap siswa itu unik dengan masing-masing karakteristik yang berbeda-beda. Apalagi anak berkebutuhan khusus dengan potensi yang berbeda-beda pula. Di SLB sendiri biasanya terdapat siswa Tunanetra, Tunarungu, Tunagrahita, Tunadaksa, Autis, Tunalarasa, maupun tunaganda.

Tantangan yang penulis hadapi yaitu ketika sudah bertemu siswa yang akan kita ajar di kelas. Bagaimana mengetahui karakter siswa baik dari sifat, apa yang ia suka dan tidak suka, serta yang sangat penting adalah potensi yang dimiliki siswa yang kemudian dikembangkan.

  1. Menyesuaikan pemilihan metode dan media mengajar yang tepat

Menyesuaikan pemilihan metode dan media mengajar yang tepat merupakan tantangan penulis selanjutnya setelah mengetahui karakteristik dan potensi anak. Hal tersebut sangat dipertimbangkan agar kemampuan anak dapat berkembang dengan baik. Selain itu juga mengingat anak berkebutuhan khusus sangat beragam sehingga perlu adanya cara dan pengubung materi yang disampaikan ke siswa dapat dipahami dengan baik.

Sebuah contoh apabila guru ingin mengajarkan keterampilan tertentu bagi anak tunagrahita sedang, maka metode drill atau latihan dengan pengulangan merupakan pilihan yang baik. Contoh lain penggunaan media pop up baik digunakan bagi tunagrahita ringan untuk memperkenalkan nama-nama binatang beserta makanannya.

  1. Yakin bahwa setiap individu siswa memiliki potensi yang dapat dikembangkan

Seorang guru wajib memiliki optimisme. Apabila tidak memiliki rasa optimis tentu akan berdampak pada praktek pembelajaran di kelas. Guru akan menjadi terkesan acuh “kalau bisa pintar syukur, kalau tidak ya tiadak apa-apa”. Hal yang demiian tentu sangat mungkin apalagi siswa yang dihadapi adalah anak berkebutuhan khusus.

Pada dasarnya setiap anak tentu memiliki kemampuan yang menonjol termasuk pula anak berkebutuhan khusus, misal seorang tunanetra yang pandai bermain catur, maupuan anak tunagrahita yang pandai menari. Hal ini menjadi tantangan bagi penulis untuk menemukan potensi tersebut.

Baca Juga  Terapi Perilaku (Behavior Therapy) Bagi Anak Tunalaras
  1. Menjadi contoh teladan baik bagi siswa

Guru adalah orang yang paling dekat dengan siswa di kelas. Sehingga siswa bisa saja menjadikan guru sebagai idola yang ia kagumi. Hal yang demikian akan membuat siswa meniru segala perilaku maupun tutur kata guru yang diidolakan. Maka tantangan bagi penulis sebagai guru yakni bagaimana menjadi teladan yang bagi siswa. Bukan malah menjadi contoh yang buruk karena tidak sedikit berita yang mengulas tentang hal-hal negatif yang dilakukan guru kepada siswa.

Tantangan pasti akan kita temui ketika pertama kali melakukan sesuatu. Tetapi hal tersebut harus dihadapi, karena adanya tantangan akan membuat kita semaki terpacu. Semoga artikel ini bermanfaat. Terima Kasih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *