Berbagi Pengalaman: 4 Kesalahan Saat Mengajar Siswa SLB

By | Mei 20, 2021

Mengajar siswa SLB merupakan suatu hal yang membanggakan. Terlebih ketika guru dapat meningkatkan kemampuan siswa anak berkebutuhan khusus (ABK) sedikit saja, maka itu suatu pencapaian yang sangat berkesan. Bagaimana tidak, ABK memiliki hambatan khusus sehingga memiliki tantangan tersendiri untuk mengembangkan mereka.

Anak berkebutuhan khusus (ABK) merupakan anak yang mengalami hambatan bisa berupa sensori, motorik, mental, perilaku, sehingga cara mereka belajar juga berbeda. Guru harus dituntut lebih kretif dalam mengembangkan mereka melalui pembelajaran di sekolah.

Menjadi guru tentunya tidak mudah. Banyak tantangan yang dihadapi dalam mendidik anak berkebutuhan khusus. Jangankan untuk mengajarkan materi yang sudah dirancang, terkadang siswa dengan kekhususan tertentu sangat sulit dikondisikan untuk menerima pembelajaran.

Kesalahan Saat Mengajar Siswa SLB
Ilustrasi guru mendidik ABK via localpower.org.uk

Selain itu terkadang keputusan yang kita ambil selaku guru bisa jadi kurang tepat sehingga memunculkan pertanyaan “kok tadi saya gini ya?”. Pengalaman tersebut pernah penulis alami dalam melaksanakan pembelajaran anak berkebutuhan khusus. Tetapi keputusan kurang tepat tersebut ada segi positifnya supaya kita bisa belajar dan menjadi lebih baik.

Berikut ini ulasan lebih lengkap tentang kesalahan-kesalahan ketika mengajar siswa SLB berdasarkan pengalaman penulis mendidik siswa ABK saat awal-awal menjadi guru.

Kesalahan Saat Mengajar Siswa SLB

Terlalu dekat dengan siswa

Kesalahan saat mengajar siswa SLB yang pertama adalah memposisikan terlalu dekat dengan siswa. Namun lebih spesifik disini pada siswa yang mengalami hambatan intelektual. Sebetulnya mendekatkan diri kepada siswa sangat baik tetapi disini terlalu dekat hingga dekat sekali juga kurang baik.

Pengalaman tersebut pernah penulis alami yakni bila kita memposisikan terlalu dekat dengan siswa yang mengalami hambatan intelektual. Mereka malah bisa menganggap kita bukan guru tetapi teman, yang mana mereka bisa melakukan semaunya sendiri, menjadi lebih sulit dikondisikan, dan terlalu sering bercanda.

Baca Juga  4 Alasan Pentingnya keterampilan berkebun untuk ABK

Baca Juga: Guru muda sebaiknya menghindari ini saat mengajar

Pemilihan materi yang terlalu tinggi

Seorang guru SLB sudah melalui pendidikan keguruan sewaktu menempuh pendidikan. Seorang guru sudah menguasai teknik dalam mendidik siswa. Namun pada praktek ketika mengajar ABK, terkadang seorang guru memilih materi yang terlalu tinggi pada anak dengan harapan supaya anak dapat berkembang dengan maksimal.

Namun bukannya anak berkembang malah yang kita ajarkan seperti tidak efektif karena itu perlu untuk mengevaluasi pemilihan materi belajar. Menurunkan materi belajar lebih sederhana dan dilakukan secara berulang-ulang.

Terbawa emosi

Ketika awal mengajar penulis juga kadang terbawa emosi apabila melihat tingkah laku anak. Tetapi pada akhirnya kembali bila kita bisa memahami bahwa anak yang kita ajar merupakan ABK. ABK memiliki karakteristik yang berbeda-beda, siswa kekhususan tertentu seringkali memiliki perilaku yang menjengkelkan namun kita sebagai guru tetap harus sabar dan memahami mereka.

Kasus lain yang sering membuat seorang guru terbawa emosi adalah karena ketika sudah diajarkan berkali-kali tetapi kemampuan siswa ABK seperti tidak berkembang. Walaupun bila kita lihat perkembangan bukan hanya soal akademik tetapi bisa saja perilaku anak lebih berkembang lebih positif.

Pemilihan materi kurang fungsional

Hendaknya materi yang kita rancang untuk anak berkebutuhan khusus bersifat fungsional. Maksudnya adalah materi yang diberikan bisa dimanfaatkan anak dalam kehidupan sehari-hari misalnya saja dalam menunjang kemandirian anak. Masalahnya kadang guru lupa dengan prinsip tersebut sehingga seringkali memberikan materi akademik murni yang mana tidak tepat untuk diterapkan ABK dengan kekhususan tertentu.

Baca Juga: Tips Guru muda supaya disukai teman kantor

Demikianlah kesalahan saat mengajar siswa SLB yang pernah penulis lakukan saat awal menjadi guru. Pengalaman tersebut menjadi pelajaran yang penting bagi penulis supaya tidak terulang dikemudian hari. Menjadi guru merupakan perjalanan untuk terus belajar. Pengalaman demi pengalaman akan menjadi jam terbang dimana kita bisa mendidik dengan semakin baik.