Metode Bermain Pada Pembelajaran Anak Tunalaras Tipe Agresif

By | April 9, 2020

Menurut Spodek (Soemiarti, 2003: 102), bermain merupakan suatu fenomena yang sangat menarik perhatian para pendidik, psikolog ahli filsafat dan banyak orang lagi sejak beberapa dekade yang lalu. Mereka tertantang untuk lebih memahami arti bermain dikaitkan dengan tingkah laku manusia.

Bermain benar-benar merupakan pengertian yang sulit dipahami karena  muncul dalam beraneka ragam bentuk. Bermain itu sendiri bukan hanya tampak pada tingkah laku anak tetapi pada usia dewasa bahkan bukan hanya pada manusia.

metode bermain
Metode bermain via sheknows.com

Para pendidik menyadari bahwa  bermain adalah  suatu kegiatan  yang sangat penting bagi anak-anak usia muda. Melalui metode Bermain menjadikan cara/jalan bagi anak untuk mengungkapkan hasil pemikiran, perasaan serta cara mereka menjelajahi dunia lingkungannya.

Dengan metode bermain juga membantu  anak dalam menjalin hubungan sosial antar anak. Dengan demikian para guru sebaiknya menyadari akan kegiatan bermain anak khususnya kegiatan bermain  yang  hendak  ditingkatkan.  Melalui  kegiatan  bermain  tertentu, guru dapat meningkatkan mutu pendidikan melalui kegiatan bermain di sekolah. (Soemiarti, 2003: 112)

Kegiatan bermain ini memang sangat penting pada masa kanak-kanak. Anak  yang  berperilaku  agresif  juga  penting  untuk  melakukan  kegiatan bermain. Di samping perkembangan kognitif mereka mengalami hambatan diharapkan dalam menyampaikan pengajaran yang dibungkus pada kegiatan bermain dapat membantu anak berperilaku agresif mengembangkan potensi kemampuan kognitifnya.

Di sekolah, peranan guru sangat penting dalam mengembangkan tiap potensi anak. Ketika seorang guru tersadar bahwa kegiatan bermain ini sangatlah penting bagi  perkembangan anak. Maka guru  akan  menciptakan pembelajaran yang menyenangkan seperti kegiatan bermain.

Jenis permainan bagi anak tunalaras khususnya yang berperilaku agresif harus disesuaikan dengan minat dan bakat anak. Permanian bagi anak berperilaku agresif sebaiknya diarahkan sasaran terapi untuk mereka, antara lain: permainan aktif secara fisik dengan menggunakan alat/tanpa alat. (Ellah Siti Chalidah, 2005: 227)

Baca Juga  Simak 7 Sekolah Khusus Autis yang Ada di Jakarta

a.   Permainan yang menggunakan alat, misalnya: sepak bola, lempar bola, permainan musik, seni pahat, seni lukis permainan warna.

b.   Permainan tanpa alat, antara lain: permainan tebak-tebakkan, permainan bahasa, permainan mendengarkan.

Kegiatan bermain yang akan dilakukan oleh para anak berperilaku agresif ini hendaknya disesuaikan dengan karakteristik anak. Misalkan anak berperilaku agresif ini mempunyai karakteristik yaitu selalu menyerang fisik sehingga  perilaku  menyimpang  mereka  diarahkan  pada  keterampilan  seni pahat. Dengan begitu perilaku mereka dapat disalurkan ke arah positif.

Namun jika anak tetap melakukan perbuatan yang menyimpang setelah melakukan kegiatan bermain yang membelajarkan. Seorang guru dapat memberikan hukuman yang sesuai. Seperti seorang anak dilibatkan dalam permainan ular tangga.

Ketika anak tersebut mendapat giliran maju maka dia maju. Namun ketika anak tersebut belum dapat giliran dan seharusnya anak yang lain mendapat giliran tetapi ia malah maju dengan melanggar atas milik orang lain. Maka ia harus mendapat hukuman karena ia telah merebut hak milik orang lain.  

Jika anak perilaku  agresif  tersebut  mendapat  hukuman ketika berbuat kesalahan. Maka anak berperilaku agresif juga akan mendapatkan hadiah apabila ia melakukan dengan benar dan baik. Sehingga anak menjadi terdorong untuk berbuat kebaikan dan enggan untuk melakukan kejahatan yang berakibat hukuman.

Manfaat yang bisa diambil dalam kegiatan bermain ini adalah seorang anak agresif tidak mengalami kejenuhan saat belajar di sekolah. Di samping itu pula perilaku agresif yang dimunculkan seorang anak dapat diminimalisir serta disalurkan pada hal-hal yang positif. Dengan demikian anak tersebut dapat mengembangkan potensi kemampuan kognitif serta sosialnya.

DAFTAR PUSTAKA

Ellah Siti Chalidah. 2005. Terapi Permainan bagi Anak yang Memerlukan Layanan Pendidikan Khusus. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Baca Juga  PPI Bina Diri Makan Menggunakan Sendok Untuk ABK

Soemiarti  Patmonodewo. 2003. Pendidikan  Anak  Prasekolah.  Jakarta:  Rineka Cipta.

Demikian artikel tentang metode bermain bagi anak tunalaras dengan perilaku agresif. Semoga bermanfaat, terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *