Metode Maternal Reflektif (MMR) dan Prinsipnya Bagi Tunarungu

By | Oktober 23, 2018

Metode Maternal Reflektif atau disingkat dengan MMR merupakan sebuah metode dalam berbahasa lisan yang dulunya terinspirasi dari seorang ibu yang mengenalkan bahasa kepada anaknya lewat percakapan. Disebut oleh Dr. A. Van Uden, seorang ahli tunarungu jika metode ini sangat cocok digunakan untuk anak tunarungu yang tengah bermasalah dengan kemampuan berbahasanya.

Ilustrasi siswa tunarungu via bu.edu

Baca Juga  Simak 5 Tips Mengatur Ruang Belajar Bagi Anak Autis

Pengertian Metode Maternal Reflektif

Nah, lebih jelasnya lagi, metode maternal reflektif ini bisa simak penjelasan dari beberapa ahli tunarungu terkait dengan metode tersebut dibawah ini:

  1. A. Van Uden
    Menurutnya pembelajaran yang ditujukan untuk anak tunarungu dengan memberikan latihan yang didasarkan dari contoh yang belum ditemukan adalah sebuah cara yang kurang efektif. Metode ini disebut sebagai metode yang paling cocok untuk mengatasi hal ini.
  2. Djatun Rahmat
    Metode MMR adalah sebuah metode yang bermanfaat meningkatkan kemampuan bahasa anak dan juga kemampuannya dalam berkomunikasi.
  3. Winarsih
    Metode Maternal Reflektif lebih mengedepankan bagaimana cara ibu mengajarkan sebuah bahasa kepada bayinya. Disini percakapan menjadi salah satu ciri utama pengimplementasian metode MMR. Hal ini tak lepas karena materi ajar dari semua maple umumnya selalu menggunakan metode percakapan.
  4. Linawati
    Metode MMR dikatakan sebagai model pembelajaran yang lebih menitikberatkan pada peranan seorang ibu dalam membangun komunikasi dari pengalaman harian anak.

Dari ulasan beberapa MMR dari para ahli diatas bisa disimpulkan jika metode ini merupakan sebuah metode dimana percakapan dalam kehidupan keseharian menjadi ciri pokoknya. Dari metode ini kemampuan bahasa bisa ditingkatkan dan begitu pula dengan kemampuan berkomunikasi anak.

Prinsip Metode Maternal Reflektif

                Dr. A. Van Uden menyebutkan jika perkembangan dari metode MMR memiliki atau mencakup beberapa prinsip antara lain:

  1. Percakapan yang digunakan dalam metode ini adalah percakapan sewajarnya. Segala bentuk bahasa yang digunakan dalam percakapan ini bisa memergunakan kalimat seru, berita, tanya, ungkapan sehari-hari, ungkapan perasaan dan lain sebagainya.
  2. Hendaknya melatih anak mengucapkannya “seritmis” untuk membantu ingatan anak khususnya pemahaman mereka akan “struktur face”
  3. Seorang anak tunarungu memiliki kekurangan dalam hal ingatan sehingga pelajaran seperti membaca dan menulis tidak boleh diabaikan. Usahakan untuk memulainya dari usia 3 tahun.
  4. Perbanyak latihan membaca dan percakapan sebagai pelajaran untuk refleksi bahasa.
Baca Juga  Contoh Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Bagi Tunanetra

Tahapan MMR

1. Percakapan dari hati ke hati (Perdati)

Merupakan percakapan yang berlangsung secara spontan, pada suasana yang santai, rileks, dan terjadi intersubyektifitas atau dua hati memikirkan obyek yang sama)

2. Percakapan membaca ideovisual (Percami)

Merupakan visualisasi kosakata baruyang muncul darihasil percakapan, divisualisasikan baik melalui tulisan, lisan, peragaan, gesture, maupun bahasa isyarat sehingga terjadi pemahaman pada makna kata yang muncul.

3. Percakapan linguistik (Percali)

Merupakan percakapan yang berkaitan tata bahasa bertitik tolak dari bacaan, tujuannya adalah agar anak tunarungu mampu merefleksikan topik tata bahasa, mampu menguasai isi dan bentuk bahasa, mampu mengembangkan dan menggali unsur-unsur bahasa.

Sumber:

PPATK TK & PLB Modul Guru SLB Pembelajar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *