Perkembangan Emosi Kanak-Kanak, Remaja, dan Orang Dewasa

By | Maret 20, 2018

Masa Kanak-Kanak Awal

Aspek-aspek perkembangan menurut Rita Eka dkk. (2008: 101) emosi anak-anak prasekolah dapat menjadi bagian integral  dari perkembangan area lain seperti kognitif dan motorik. Anak-anak mengalami perkembangan emosi dari senang, marah dan susah menjadi malu, kecewa dan sebagainya (Rita Eka dkk., 2008: 101). Pada masa ini tidak hanya perlu belajar bagaimana cara mengekspresikan emosinya, tetapi juga perlu belajar mengendalikannya.

Perkembangan emosi via healthymummy.com

Bersumber dari pendapat di atas perkembangan kanak-kanak awal terjadi peubahan emosi sehingga diperlukan bimbingan belajar agar dapat mengendalikan perubahan tersebut yang berlebihan. Hal tersebut bertujuan agar perkembangan kognitif dan motorik tidak terganggu akibat dari perubahan emosi yang tidak terkendali.

Baca Juga  5 Tantangan Dalam Menempuh Pendidikan Profesi Guru (PPG)

Masa Kanak-Kanak Akhir

Sering dan kuatnya emosi akan merugikan penyesuaian sosial anak. Emosi yang nyata (Rita Eka dkk., 2008: 111) seperti takut, amarah, cemburu, iri hati kerap kali disebut sebagi emosi yang tidak menyenangkan atau “unpleasant emotion”. Sebaliknya perasaan yang menyenangkan atau “pleasant emotion” seperti kasih sayang, bahagia, rasa ingin tahu, suka cita, tidak saja membantu perkembangan anak tetapi sesuatu yang sangat penting dan dibutuhkan bagi perkembangan anak. Anak mulai belajar mengendalikan ungkapan emosi yang kurang dapat diterima.

Ciri-ciri masa kanak-kanak (Rita Eka dkk., 2008: 112) adalah sebagai berikut.

  • Berlangsung relatif singkat.

Disebabkan karena emosi anak menampakkan dirinya di dalam kegiatan atau gerakan yang nampak, sehingga menghasilkan emosi yang pendek.

  • Kuat atau hebat.

Mereka akan tampak marah sekali, takut sekali, tertawa ternbahak-bahak meskipun kemudian cepat hilang.

  • Mudah berubah.

Sering terjadi perubahan, saling berganti-ganti emosi, dari emosi susah ke emosi senang dan sebalikknya dalam waktu yang singkat.

  • Nampak berulang-ulang.

Timbul karena anak ada pada tahap perkembangan menuju dewasa. Anak harus menyesuaikan diri terhadap situasi luar, dan dilakukan secara berulang-ulang.

  • Respon berbeda-beda.

Menunjukkan variasi respon emosi. Secara berangsur-angsur pengalaman belajar dari lingkungan membentuk tingkah laku dengan perbedaan emosi secara individual.

  • Dapat diketahui atau dideteksi dari gejala tingkah lakunya.

Misalnya melamunm gelisah, sering menangis dan sebagainya.

  • Mengalami perubahan dalam kekuatan.
    Misalnya seorang anak masih merasa malu di tempat yang asing, namun lama kelamaan anak akan merasa biasa saja/tidak malu.
  • Perubahan dalam ungkapan-ungkapan perasaan.

Memperlihatkan keinginan yang kuat terhadap apa yang mereka inginkan. Bila keinginan tidak terpenuhi anak akan marah. Sebaliknya jika merasa senang anak akan tersenyun dan tertawa meskipun orang lain tidak mengetahui apa yang dirasakan.

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa perkembangan kanak-kanak akhir tidak terlalu berbeda dengan masa kanak-kanak awal, namun anak sudah mampu mengendalikan luapan emosi yang tidak dapat diterima. Anak mulai menampakkan rasa malu. Keinginan anak sulit ditolak. Pada masa perkembangan ini guru atau orang tua harus mampu memberi pengertian pada anaknya agar lebih terkendali emosi negatifnya.

Remaja

Ketegangan emosi yang khas (Rita Eka dkk., 2008: 135) disebut masa badai topan (strom and stress). Heightened Emotionality, (Rita Eka dkk., 2008: 135) yaitu masa yang menggambarkan keadaan perasaan remaja yang tidak menentu, tidak stabil dan meledak-ledak. Meningginya emosi terjadi karena remaja menghadapi kondisi baru, karena selama masa kanak-kanak mereka kurang mempersiapkan diri menghadapi keadaan tersebut. Kepekaan emosi sering diwujudkan dalam bentuk, lekas marah, mudah menyendiri dan adanya kebiasaan nervous, gelisah, cemas dan sentimen, menggigit kuku dan garuk-garuk kepala.

Perkembangan emosi cinta remaja, meliputi beberapa tahap (Rita Eka dkk., 2008: 136) yaitu:

  1. Crush, akhir masa kanak-kanak/awal remaja, mulai memuja orang lain yang lebih tua dari jenis seks yang sama, cinta bersifat pemujaan
  2. Hero worshipping, sama dengan crush, cinta bersifat pemujaan ditunjukkan pada orang lain yang lebih tua, tapi dari jenis kelamin yang berbeda dan umumnya jarak jauh.
  3. Boy crazy & Girl Crazy, rasa cinta ditunjukkan pada teman sebaya, tidak hanya satu orang tapi pada semua remaja dan lawan jenisnya.
  4. Puppy love (cinta monyet), cinta remaja tertuju pada satu orang saja tapi sifatnya masih berpindah-pindah.
  5. Romantic love, remaja menemukan cinta yang tepat, sifat sudah lebih stabil, sering berakhir dengan perkawinan.

Sesuai dengan teori di atas perkembangan remaja terjadi masa transisi antara masa kanak-kanak dengan dewasa. Anak sering kali merasa masih dianggap sebagai anak-anak padahal perkembangan lebih meningkat dibandingkan dengan seorang anak. Anak mulai mengalami ketertarikan dengan lawan jenis. Kontrol dari orang tua menjadi sangat penting agar anak tidak terjerumus pada pergaulan bebas karena organ reproduksi anak sudah mulai matang.

Baca Juga  Tips Mendidik: 10 Cara Mengurangi Perilaku Manja Pada Anak

Orang Dewasa

Perkembangan sangat berkaitan dengan adanya perubahan minat. Kondisi yang mempengaruhi perubahan minat pada masa ini adalah perubahan kondisi kesehatan, perubahan status sosial ekonomi, perubahan dalam pola kehidupan, perubahan dalam nilai, perubahan peran seks, perubahan status dari belum menikah ke status menikah, menjadi orangtua, perubahan tekanan budaya dan lingkungan. Kondisi di atas sangat menuntut orag dewasa pada masa ini untuk melakukan penyesuaian diri dengan baik.

Santrock (Rita Eka dkk., 2008: 162-163) bahwa perkembangan emosi sosial dan moral terdapat beberapa titik perhatian sebagai berikut

  1. Pernikahan dan cinta

Pada masa dewasa madya, fase kehidupan keluarga mempengaruhi ciri khas perkembangan emosinya pada fase ini berada pada taraf kestabilan dalam berumah tangga.

  1. Sindrom sarang kosong

Sindrom sarang kosong ini menyatakan bahwa kepuasan pernikahan akan menurun karena anak-anak yang akan mulai meninggalkan orangtuanya.

  1. Hubungan persaudaraan dan persahabatan

Hubungan dengan saudara akan semakin meningkat. Individu mulai dituntut untuk membimbing masa-masa sebelumnya.

  1. Pengisian waktu luang

Individu pada masa dewasa madya atau tengah, perlu menyiapkan diri untuk masa pensiun, baik secara keuangan maupun psikologi. Terkadang menyebabkan perasaan cemas.

  1. Hubungan antar generasi

Semakin dekan antara anak dengan orang tuanya, biasanya ibu dengan anak perempuannya.

Tingkat perkembangan dewasa adalah pengendalian perasaan yang paling stabil. Orang mulai dapat mengendalikan perasaan yang dulu ketika remaja masih meledak-ledak. Pada tingkat dewasa biasanya lebih bisa ngemong generasi berikutnya. Lebih bisa mengalah dan berpikir dingin. Tanggungjawab sebagai pemimpin, sebagai karyawan dan sebagai orang tua.

Sumber:

Rita, Eka dkk. 2008. Perkembangan Peserta Didik. Yogyakarta: UNY Press

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *