Sejarah Pendidikan Luar Biasa (PLB) di Dunia dan Indonesia

By | Maret 18, 2020

Pendidikan merupakan salah satu hal penting yang tidak bisa dipisahkan di kehidupan ini. Apabila seseorang tidak mendapatkan pendidikan maka, mereka tidak akan dapat menulis, membaca dan bahkan hidupnya selalu bergantung pada orang lain. Oleh karena itu, setiap anak wajib mendapatkan pendidikan sekalipun anak tersebut memiliki keterbatasan. Bagi anak yang berkebutuhan khusus maka, bisa disekolahkan ke SLB. Simak yuk sejarah PLB selengkapnya. 

sejarah PLB
Sejarah PLB via study.com

Sejarah Pendidikan Luar Biasa Dunia

Pendidikan luar biasa atau PLB adalah komponen yang terdapat dalam pemberian layanan pembelajaran khusus bagi individu tertentu. Pendidikan luar biasa diberikan dengan tujuan untuk memaksimalkan pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus. Nah Anda telah memahami tentang pengertian PLB, selanjutnya Kita akan mempelajari sejarah PLB secara singkat di dunia. 

Pertama kali pendidikan luar biasa dikenalkan oleh Jean March – Gaspard Itard pada tahun 1775 hingga 1838. Pendidikan luar biasa yang dilakukan oleh Jean yakni memberikan pelajaran kepada Vektor, seorang anak liar yang tidak bisa membaca, berbicara, dan tidak dapat menulis. Melalui pendidikan luar biasa. Vektor diberi pendidikan namun, Jean March merasa gagal karena pendidikan yang diberikan kurang berhasil sehingga vektor tidak bisa apa-apa. 

Penelitian pendidikan luar biasa dilakukan lagi oleh Edouard Segun pada tahun 1812 sampai 1880. Edouard lebih maju, karena dirinya berhasil mengembangkan program pembelajaran yang menggunakan aktifitas sensoris dan motoris untuk belajar. Edouard meyakinkan bahwa semua anak dapat belajar, sekalipun anak berkebutuhan khusus. Edoard kemudian berhasil mendirikan Amerikan Association on Mental Retardation. 

Sejak adanya organisasi yang didikan oleh Edouard, para pionir pendidikan berusaha untuk mengembangkan pendidikan luar biasa. Beberapa pionir pendidikan luar biasa di dunia yang terlibat yaitu Jacob Rodrigues, Philippe Pinel, Thomas Gallaudet, Samuel Gridley Howe,Dorothea Lynde Dix, Louis Braile, Francis Galton, Alfred Binet, Maria Montessori, dan Lewis Terman. Pionor pendidikan bekerja sama untuk membangun pendidikan luar biasa.

Baca Juga  5 Tips Memilih Alat Bantu Dengar Untuk Tunarungu
sejarah plb
sejarah plb

Sejarah Pendidikan Luar Biasa di Indonesia

Sejarah Pendidikan Luar Biasa di Indonesia tidak terlepas dengan keberadaan Belanda di Negeri ini sebelum merdeka, beberapa pendidik berusaha membuat sistem pendidikan yang orientasinya berbeda yakni untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Pertama kali sekilah luar biasa dibuka untuk anak tunanetra (tahun 1901), yang kedua yaitu lembaga pendidikan anak tunagrahita (tahun 1927), dan terakhir yaitu lembaga pendidikan anak tunarungu (tahum 1930). Ketiga lembaga sekolah tersebut didirikan di Bandung. 

Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, pemerintahan secara khusus membuat undang-undang pendidikan. Salah satunya pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus atau yang memiliki kelainan fisik. Isi undang-undang tertuang pasal 6 ayat 2 isinya “pendidikan serta pengajaran luar biasa wajib diberikan kepada mereka yang berkebutuhan khusus. Berlakunya undang-undang tersebut membuat munculnya SLB baru yang banyak. 

Baca Juga: Perbedaan PLB dan SLB

Perkembangan sejarah Pendidikan Luar Biasa di Indonesia semakin pesat. Hingga akhirnya terbentuklah sekolah luar biasa yang dikelompokkan sesuai dengan kategori masing-masing. Berikut merupakan kelompok SLB di Indonesia. 

  1. SLB A (anak tunanetra)
  2. SLB B (anak tunarungu)
  3. SLB C (anak tunagrahita)
  4. SLB D (anak tunadaksa)
  5. SLB E (anak tunalaras)
  6. SLB Autis
  7. SLB G (anak cacat ganda)

Itulah pembagian komponen kategori sekolah luar biasa. Setelah dikategorikan, lantas bagaimanakah program pendidikan yang diberikan?Sejarah Pendidikan Luar Biasa lanjut ke program pendidikannya, pertama kali konsep pendidikan memakai pendidikan inklusif (sistem penyelenggaraan pendidikan yang bersifat bebas). Namun, sekarang pendidikan yang diberikan tidak inklusif lagi, karena sudah dibuat program pendidikan khusus. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *