Terapi Okupasi Memukul Bola Plastik Untuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK): Tunagrahita Ringan

By | Januari 24, 2018

Kali ini penulis membagikan artikel mengenai salah satu terapi okupasi bermain yang dapat diterapkan pada anak berkebutuhan khusus dengan mengambil subjek tunagrahita ringan. Adapun kegiatan yang dipilih adalah memukul bola plastik. Terapi ini dapat diterapkan pula untuk berbagai anak berkebutuhan khusus (ABK) dengan dimodifikasi agar sesuai.

Terapi okupasi untuk ABK

Terapi okupasi untuk ABK via floatinghospital.org

Sebelum langsung membahas pada inti artikel, terlebih dahulu kita perlu mengenal apa itu terapi okupasi. Terapi okupasi merupakan salah satu layanan yang diberikan kepada seseorang yang mengalami hambatan mental atau fisik melalui penggunaan aktifitas atau kegiatan dengan sasaran yang terseleksi untuk mengembangkan kemandirian seseorang.

Langsung saja berikut ini adalah contoh salah satu terapi okupasi bermain yang dapat diterapkan pada anak berkebutuhan khusus:

GAMBARAN SUBJEK

1) Kondisi Subjek

Pada latihan ini penulis memilih anak tunagrahita kategori ringan sebagai objek dalam latihan koordinasi sensomotorik. Menurut Heber (dalam Mumpuniarti, 2007: 10), mengemukakan pendapat mengenai tunagrahita atau Intelectual disability sebagai berikut:“ Intelectual Disability refers to subaverage general intellectually fungction existing concurrently which originates during the development period and is associated with impairment in adaptive behavior.” Jadi individu yang menunjukkan fungsi kecerdasan umum dibawah rata-rata, dalam hal ini memiliki IQ dibawah 70 pada saat perkembangan, dan berhubungan dengan kerugian adaptasi tingkah laku.

Tunagrahita merupakan kondisi yang komplek, menunjukkan kemampuan intelektual yang rendah, dan mengalami hampatan perilaku adaptif. Seseorang tidak dapat dikatakan tunagrahita apabila tidak memiliki kedua hal tersebut, perkembangan intelektual yang rendah dan kesulitan dalam perilaku adaptif, ( Endang Rochyadi & Zaenal Alimin, 2005: 12).

Moh. Amin (1995: 22) berpendapat bahwa anak tunagrahita ringan mempunyai tingkat kecerdasan (IQ) berkisar 50-70, dalam penyesuaian sosial maupun bergaul kurang mampu menyesuaikan diri pada lingkungan sosial yang lebih luas dan mampu melakukan pekerjaan setingkat semi terampil

2) Kemampuan Sensomotorik Yang Masih Dimiliki

Pelatihan koordinasi sensomotorik menendang bola memiliki kriteria tertentu agar latihan ini dapat dilakukan, kriteria tersebut antara lain:

  1. Anak masih memiliki organ motorik yang lengkap
  2. Kemampuan visual anak berfungsi sebagaimana mestinya.
  3. Gangguan Sensomotoorik

Gangguan pada pelatihan ini adalah anak belum dapat memfokuskan antara sensoris visual dan motorik pada kaki, selain itu kemampuan fokus anak juga masih lemah. Sehingga dengan adanya latihan koordinasi sensomotorik menendang bola, anak dapat lebih fokus dan sensoris visual dan motorik kaki dapat terkoordinasi dengan baik.

Baca Juga  10 Tokoh Dunia Penyandang Disabilitas yang Sangat Menginspirasi

PERENCANAAN

1) Deskripsi Program

Program latihan bermain ini dilakukan secara berurutan yakni satu per satu. Guru mengoper bola yang banyaknya disesuaikan, kemudian anak memukul, apabila banyak bola yang berhasil dipukul, maka persepsi anak semakin baik.

2) Tujuan Program

Dalam latihan koordinasi sensomotorik yang difokuskan bagi anak tunagrahita ringan bertujuan agar anak dapat mengkoordinasikan antara motorik tangan dan persepsi penghlihatan yakni datangnya bola.

3) Peralatan Yang Digunakan

Alat merupakan segala sesuatu yang langsung membantu terwujudnya pencapaian tujuan tertentu, dalam hal ini pelatihan perbaikan artikulasi, (Dwi siswoyo, 2011: 146). Adapun alat yang diperlukan dalam program latihan bermain menendang bola  antara lain:

  1. Bola = Benda yang akan dipukul yakni berupa bola plastik
  2. Kayu Pemukul = untuk memukul bola
  3. Keranjang = untuk menaruh bola

4) Alokasi Waktu Yang Digunakan

Waktu yang dibutuhkan untuk latihan ini adalah 3 kali pertemuan dan setiap pertemuan 30 menit. (3 x 30 menit)

5) Langkah-langkah Pelaksanaan Program Bermain

Gambaran pelaksanaan Program bermain:

a. Siapkan semua peralatan yang dibutuhkan.

b. Ajak anak bermain diluar ruangan dalam hal ini lapangan yang luas, jauh dari benda-benda tertentu yang mudah pecah atau rusak.. Hal ini dilakukan agar anak bisa menikmati suasana baru selain didalam rumah.

c. Hal pertama yang dilakukan sebelum latihan adalah pemanasan dengan perenggangan kaki, latihan ini bertujuan agar dalam latihan inti tidak terjadi hal yang tidak diinginkan seperti kram,dll.

d. Untuk awal latihan, anak disuruh menendang bebas atau tidak ada target tertentu, hal ini sebagai bagian dari adaptasi..

e. Pelatih menyiapkan siapa yang menjadi pemukul dan penangkap/ yang mengembalikan bola ke keranjang kembali, sedangkan guru sebagai pengumpan bola

f. Anak disuruh memukul bola yang diumpan oleh guru, hal ini akan nampak seperti bermain kasti.

g. Latihan akan dilakukan berulang kali, setiap latihan pelatih melakukan evaluasi tingkat keberhasilan.

LAPORAN PRAKTIK PELAKSANAAN PROGRAM BERMAIN

Berikut ini adalah detail praktik pelaksanaan latihan program bermain:

1) Identitas Subjek

Nama                                                   : PN

Tempat dan tanggal lahir/umur    :  Yogyakarta, 20 Februari 2006

Jenis kelamin                                     :  Laki-laki

Agama                                                  :  Islam

Status anak                                          :  Anak Kandung

Anak ke dari jumlah saudara          :  Pertama dari satu bersaudara

Nama sekolah                                     :  SLB X

Kelas                                                     :  I SDLB

Alamat                                                  : Jl Sukamaju

2) Hasil

a. Kemampuan Koordinasi Sensomotorik

Dari hasil observasi yang dilakukan di sekolah, secara umum kemampuan sensomotorik (sensori, motorik kasar, dan motorik halus) cukup baik. Meskipun anak ini mengalami hambatan intelektual tetapi tidak terlalu mempengaruhi kemampuan sensomotoriknya. Anak bisa menebalkan garis dengan baik, menghubungkan titik, melompat, dan memukul bola walaupun kadang kadang tidak kena.

Tetapi menurut guru kelasnya, masih ada sedikit kelemahan dalam kemampuan sensori pengelihatan dan motorik kasar memukul tidak tepat pada sasaran dan kadang tidak bisa memperkirakan jarak.

b. Kondisi Kemampuan Memori

Seperti anak tunagrahita pada umumnya, putra mempunyai memmori dengan rentan ingatan yang pendek, hal tersebut karena kemampuan kognitif atau intelegensinya terbatas.

c. Kemampuan Sosial

Ketika dilakukan pengamatan menunjukkan anak mudah bergaul dan menyesuaikan diri dengan orang yang baru dikenal, ada kontak mata, sudah dapat merangkai kalimat dengan dua kata, dapat mengisyaratkan keinginan dan merespon perintah, konsentrasi agak kurang.

3) Proses aktivitas permainan

–          Anak dapat mengikuti instruksi yang diberikan dengan baik.

–          Anak dapat memukul bola beberapa bola tetapi banyak juga yang gagal.

–          Anak dapat berlatih mengoptimalkan kemampuan motorik kasar.

–          Anak dapat melakukan permainan itu dengan senang tanpa paksaan

Baca Juga  Kampus Swasta Yang Membuka Jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB)

4) Pelajaran yang dapat diambil dari permainan tersebut:

Pelajaran yang dapat diperoleh dari aktivitas permainan tersebut adalah membantu anak tunagrahita ringan mengoptimalkan kemampuan motorik kasar memukul bola. Di samping itu juga dapat membantu mengembangkan kemampuan koordinasi sensomotorik, konsentrasi, serta keseimbangan.

5) Refleksi:

a. Tujuan dari permainan ini adalah untuk membantu mengoptimalkan kemampuan motorik kasar pada anak tunagrahita ringan. Sehingga dengan melakukan aktivitas permainan ini diharapkan menjadi terapi bagi mereka di samping membantu mereka juga mendapatkan kesenangan.

b. Permainan tersebut dapat diterapkan untuk anak kategori tunagrahita sedang, juga anak klasifikasi lain seperti anak tunarungu.

c. Permainan ini sebaiknya dilakukan ditempat yang terbuka agar anak merasa leluasa dalam melakukan permainan ini.

DAFTAR PUSTAKA

Mumpuniarti. 2007. Pembelajaran Akademik Bagi Tunagrahita. Yogyakarta: FIP UNY

Rochyadi, Endang. 2005. Pengembangan Pembelajaran Individual bagi ATG. Jakarta: Dikti

Dwi Siswoyo dkk. 2011. Ilmu Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *