Terapi Perilaku (Behavior Therapy) Bagi Anak Tunalaras

By | Desember 19, 2017

Abstrak: Tunalaras merupakan seseorang yang mengalami masalah perilaku yang sangat parah (melukai diri sendiri maupun menyakiti orang lain) sehingga memerlukan pendidikan dan layanan khusus untuk mengembangkan potensinya. Banyak sekali sebutan bagi anak tunalaras antara lain Mental Illnes, emotional disorder, dll.

Terapi perilaku

Terapi perilaku via gildavenezia.it

Hal-hal yang dikaji dalam makalah ini bahwa gangguan emosi pada tunalaras harus dilakukan terapi, salah satu terapi yang dikaji dalam hal ini adalah terapi tingkah laku yang bertujuan mengubah perilaku yang tidak dikehendaki dan diharapkan munculnya tingkah laku baru yang dikehendaki. Terapi tingkah laku merupakan penerapan berbagai teknik dan prosedur yang ada dalam bernagai teori belajar agar penyimpangan perilaku semakin berkurang. Terapi periku mempunyai ciri, dilakukan dengan berbagai metode atau teknik–teknik yaitu teknik desensitikasi sistematik, teknik inplosif, teknik latihan afersif, teknik hukuman, dan teknik pengkondisian peran, serta teknik tersebut harus dilakukan dengan tepat agar hasil terapi sesuai dengan apa yang diharapkan.

Kata kunci : Tunalaras, Terapi tingkah laku

PENDAHULUAN

A) LATAR BELAKANG

Pendidikan adalah suatu proses mengembangkan potensi manusia agar menjadi dewasa dan aktual. Pendidikan berfungsi untuk menyiapkan manusia agar mempunyai kemampuan atau modal yang kelak akan berguna bagi kehidupannya, dan tujuan dari Pendidikan adalah untuk membekali manusia yang masih belum mempunyai kemampuan agar kelak menjadi manusia dewasa mempunyai kemampuan.

Pendidikan tersebut bersifat universal, sehingga semua orang berhak mendapatkan pendidikan yang layak tidak terkecuali anak tunalaras. Pendidikan sangat penting untuk membekali ilmu pengetahuan bagi anak tunalaras, karena dengan pendidikan suatu saat anak yang mengalami gangguan emosi (anak tunalaras) diharapkan akan menjadi orang yang bermanfaat dan mandiri saat dewasa, dalam artian dapat menjadi manusia yang beraklak mulia.

Namun pendidikan tidaklah cukup bagi anak tunalaras untuk menunjang keberhasilan belajar, anak tunalaras hendaknya tidak hanya diberikan layanan pendidikan tetapi disertai juga terapi. Hal ini sangat penting karena fungsi terapi adalah untuk memperbaiki perilaku bagi anak tunalaras. Berbagai terapi bagi anak tunalaras sangat banyak dan salah satunya adalah Terapi tingkah laku (Behavior Therapy) sehinnga sangat penting bagi kita untuk mengetahui terapi itu.

B) RUMUSAN MASALAH

  1. Apa yang dimaksud terapi perilaku?
  2. Teknik apa saja yang dapat digunakan dalam terapi perilaku?
  3. Apa kegunaan terapi tingkah laku?

C) TUJUAN

  1. Mengetahui Pengertian terapi perilaku.
  2. Mengetahui teknik apa saja yang digunakan dalam terapi perilaku.
  3. Mengetahui kegunaan terapi tingkah laku.

PEMBAHASAN

A) PENGERTIAN ANAK TUNALARAS

Sebelum kita membahas pengertian Anak Tunalaras ada baiknya kita mencari tahu  terlebih dahulu pengertian dari Tunalaras. Secara etimologi tunalaras terdiri dari kata tuna yang berarti cacat atau rusak dan laras yang berarti perilaku atau tingkah laku, selain itu banyak istilah-istilah mengenai tunalaras antara lain: mental illness, emotional distubance, emotional disorder, emotional handicap, social maladjusment, Rosenberg (Dalam Nafsiah Ibrahim, 1996:3). Sehingga anak tunalaras berarti seorang anak yang memiliki gangguan emosi dan perilaku menyimpang yang disebabkan karena berbagai faktor sehingga diperlukan pendidikan khusus.

Menurut Hallahan & Kauffman (Dalam Mohammad Efendi, 2006:142) “Sebutan anak berkelainan perilaku (Tunalaras) didasarkan pada realitanya bahwa penderita kelainan perilaku mengalami problema intrapersonal dan atau interpersonal secara ekstrem. Saya sependapat dengan teori tersebut, dalam kehidupan sehari-hari anak tunalaras memang terdapat masalah penyesuaian baik intrapersonal maupun interpersonal.
Menurut ketentuan yang ditetapkan dalam Undang-Undang Pokok Pendidikan No.12 Tahun 1952, anak tunalaras adalah individu yang mempunyai tingkah laku menyimpang/ erkelainan, tidak memiliki sikap, melakukan pelanggaran terhadap peraturan dan norma-norma sosial dengan frekuensi yang cukup besar, tidak/kurang mempunyai toleransi terhadap kelompok dan orang lain, serta mudah terpengaruh oleh suasana, sehingga membuat kesulitan bagi diri sendiri maupun orang lain.

Menurut Kauffman (dalam Nafsiah Ibrahim, 1996:5), banyak sekali pendapat tentang pengertian anak tunalaras sehingga belum ada istilah yang baku yang dapat diterima oleh semua ahli dibidang tunalaras. perbedaan itu karenakan adanya perbedaan konsep, tujuan, dalam merumuskan definisi, masalah pengukuran, sangat bervariasinya gejala tingkah laku normal, perkembangan ilmu tentang gangguan tingkah laku pada anak-anak dan masalah pemberian label terhadap anak tunalaras.

Baca Juga  Belajar Braille: Membaca Huruf, Angka, dan Tanda Baca dengan Mudah

B) KLASIFIKASI ANAK TUNALARAS

Secara garis besar anak tunalaras dapat diklasifikasikan menjadi anak yang mengalami kesukaran dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial dan anak yang mengalami gangguan emosi. Sehubungan dengan itu, (William M.C 1975:567) mengemukakan kedua klasifikasi tersebut antara lain sebagai berikut:

  1. anak yang mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial:
    1. The Semi-socialize child, anak yang termasuk dalam kelompok ini dapat mengadakan hubungan sosial tetapi terbatas pada lingkungan tertentu. Misalnya: keluarga dan kelompoknya. Keadaan seperti ini datang dari lingkungan yang menganut norma-norma tersendiri, yang mana norma tersebut bertentangan dengan norma yang berlaku di masyarakat. Dengan demikian anak selalu merasakan ada suatu masalah dengan lingkungan di luar kelompoknya.
    2. Children arrested at a primitive level of socialization, anak pada kelompok ini dalam perkembangan sosialnya, berhenti pada level atau tingkatan yang rendah. Mereka adalah anak yang tidak pernah mendapat bimbingan kearah sikap sosial yang benar dan terlantar dari pendidikan, sehingga ia melakukan apa saja yang dikehendakinya. Hal ini disebabkan karena tidak adanya perhatian dari orang tua yang mengakibatkan perilaku anak di kelompok ini cenderung dikuasai oleh dorongan nafsu saja. Meskipun demikian mereka masih dapat memberikan respon pada perlakuan yang ramah.
    3. Children with minimum socialization capacity, anak kelompok ini tidak mempunyai kemampuan sama sekali untuk belajar sikap-sikap sosial. Ini disebabkan oleh pembawaan/kelainan atau anak tidak pernah mengenal hubungan kasih sayang sehingga anak pada golongan ini banyak bersikap apatis dan egois.
  1. Anak yang mengalami gangguan emosi, terdiri dari:
    1. neurotic behavior, anak pada kelompok ini masih bisa bergaul dengan orang lain akan tetapi mereka mempunyai masalah pribadi yang tidak mampu diselesaikannya. Mereka sering dan mudah dihinggapi perasaan sakit hati, perasaan cemas, marah, agresif dan perasaan bersalah. Di samping itu kadang mereka melakukan tindakan lain seperti mencuri dan bermusuhan. Anak seperti ini biasanya dapat dibantu dengan terapi seorang konselor. Keadaan neurotik ini biasanya disebabkan oleh sikap keluarga yang menolak atau sebaliknya, terlalu memanjakan anak serta pengaruh pendidikan yaitu karena kesalahan pengajaran atau juga adanya kesulitan belajar yang berat.
    2. children with psychotic processes, anak pada kelompok ini mengalami gangguan yang paling berat sehingga memerlukan penanganan yang lebih khusus. Mereka sudah menyimpang dari kehidupan yang nyata, sudah tidak memiliki kesadaran diri serta tidak memiliki identitas diri. Adanya ketidaksadaran ini disebabkan oleh gangguan pada sistem syaraf sebagai akibat dari keracunan, misalnya minuman keras dan obat-obatan

C) FAKTOR PENYEBAB KETUNALARASAN

  1. Keadaan Fisik (Biofisik)

Biofisik model menyatakan bahwa tingkah laku tunalaras adalah sebuah penyakit atau orientasi medical, setiap orang yang sehat memiliki pikiran yang sehat dan sebaliknya. Kondisi fisik ini dapat berupa kelainan atau kecacatan baik tubuh maupun sensoris yang dapat mempengaruhi perilaku seseorang. Kecacatan yang dialami seseorang mengakibatkan timbulnya keterbatasan dalam memenuhi kebutuhanya baik berupa kebutuhan fisik-biologis maupun kebutuhan psikisnya ,(Ibnu Syamsi,1996:5)

  1. Masalah Perkembangan

Erikson (dalam Singgih D. Gunarsa,1985:107) menjelaskan bahwa setiap memasuki fase perkembangan baru, individu dihadapkan berbagai tantangan atu krisis emosi. Papabila ego dapat mengatasi krisis ini, individu dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan social atau masyarakat. Sebaliknya apabila individu tidak dapat menylesaikan masalh tersebut maka akan menimbulkan gangguan emosi dan tingkah laku. Konflik emosi ini terjadi pada masa kanak-kanak dan masa pubertas.

  1. Lingkungan Keluarga

Keluarga memiliki pengaruh yang demikian penting dalam membentuk kepribadian anak. Keluargalah peletak dasar perasaan aman pada anak, dalam keluarga pula anak memperoleh pengalaman pertama mengenai peasaan dan sikap sosial.

Aspek-aspek yang berkaitan dengan masalah gangguan emosi dan tingkah laku, yaitu:
a) Kasih sayang dan perhatian,
b)  Kehormonisan keluarga, dan
c)  Kondisi ekonomi.

  1. Lingkungan Sekolah

Timbulnya gangguan tingkah laku yang disebabkan lingkungan sekolah berasal dari guru dan fasilitas pendidikan. Prilaku guru yang otoriter mengakibatkan anak menjadi tertekan dan takut menghadapi pelajaran, sehingga anak lebih memilih membolos dan berkeluyuran. Fasilitas pendidikan juga mempengaruhi gangguan tingkah laku. Sekolah yang tidak mempunyai fasilitas untuk anak menyalurkan bakat dan mengisi waktu luang mengakibatka anak menyalurkan aktivitas pada hal-hal yang kurang baik.

  1. Lingkungan Masyarakat

Di dalam lingkugan masyarakat terdapat banyak sumber yang merupakan pengaruh negative yang dapat memicu timbulnya perilaku menyimpang. Sikap masyarakat masyarakat yang negative ditambah banyaknya hiburan yang tidak sesuai dengan perkembangan jiwa anak merupakan sumber terjadinya kelainan tngkah laku. Masuknya pengaruh kebudayaan asing yang kurang sesuai dengan tradisi yang dianut masyarakat yang diterima oleh kalangan remaja dapat menimbulkan konflik yang sifatnya negatif.

D) TERAPI TINGKAH LAKU BAGI TUNALARAS

  1. Konsep Terapi Tingkah Laku

Terapi tingkah laku merupakan penerapan berbagai teknik dan prosedur yang ada dalam bernagai teori belajar. Terapi tingkah laku sudah dimulai sejak tahun 1950-an, namun tidak begitu populerdibandingkan kemajuan yang dialami saat ini. Kini modifikasi tingkah laku dan terapi tingkah laku menduduki tempat penting dibidang psikoterapi dan dalam banyak hal dibidang pendidikan, psikologi klinis dan konseling dengan menggunakan metode-metode behavioral. Modifikasi memberi pengaruh besar di bidang pendidikan, terutama pendidikan khusus yang mengkaji anak berkesulitan belajar dan masalah tingkah laku.

Terapi tingkah laku berusaha menghilangkan atau meniadakan masalah-masalah tingkah laku dan berusaha memunculkan tingkah laku yang diharapkan. Menurut B.F Skinner (Nafsiah Ibrahim, 1996:114), ada tiga cara mengubah tingkah laku manusia:

a. Tingkah laku dapat diubah dengan mengubah peristiwa-peristiwa yang mendahului yang membangkitkan tingkah laku khusus, contoh: anak hiperaktif tidak bisa tenang jika belajar dalam kelas yang terdapat banyak rangsangan.

b. Suatu jenis tingkah laku yang timbul dalam suatu keadaan tertentu dapat diubah dan dimodifikasi, misal dalam keluarga anak kurang mendapat perhatian, maka dalam sekolah guru harus memberi perhatian lebih.

c. Akibat dari suatu tingkah laku tertentu dapat diubah; dengan demikian tingkah laku bisa dimodifikasi, misalkan seorang anak mencuriia dihukum akibat dari perbuatannya.

  1. Tujuan Terapi Tingkah Laku

Setiap kegiatan terapi mempunyai tujuan seperti halnya terapi tingkah laku, berikut ini adalah tujuan terapi tingkah laku menurut (Nafsiah Ibrahim, 1995:115) :

a. Mengubah pola-pola perilaku maladaptip dan membantu klien (anak tunalaras) untuk mempelajari tingkah laku yang konstruktif.

b. Tujuan-tujuan spesifik dipilih oleh klien

c. Tujuan-tujuan yang luas dipecah kedalam sub tujuan sub tujuan yang tepat.

Tujuan utama terapi tingkah laku adalah menciptakan kondisi-kondisi yang baru dalam proses belajar. Hal ini didasarkan bahwa segenap tingkah laku itu dipelajari, termasuk tingkah laku yang maladaptip jika suatu tingkah laku juga dapat dihilangkan dan tingkah laku yang lebih efektif diperoleh.

  1. Ciri-Ciri Terapi Tingkah Laku

Menurut Gerald Corey (Nafsiah Ibrahim, 1995:117), terapi tingkah laku ditandai oleh :

a. Pemusatan perhatian kepada tingkah laku yang tampak dan spesifik.

b. Kecermatan dan penguraian tujuan-tujuan tretmen.

c. Perumusan Prosedur tretmen yang spesifik yang sesuai dengan masalah

e. Penilaian objektif atas hasil-hasil terapi.

Pada dasarnya terapi tingkah laku diarahkan pada tujuan-tujuan untuk memperoleh tingkah laku baru, penghapusan tingkah laku yang maladadapted, serta memperkuat dan mempertahankan tingkah laku yang diinginkan. Pernyataan yang tepat tentang tujuan-tujuan tretmen dispesifikasi, sedangkan pernyataan yang bersifat umum ditolak

  1. Teknik-teknik Terapi Tingkah Laku

a. Teknik Desensitisasi Sistematik

Desentisasi sistematik adalah suatu teknik yang banyak digunakan dalam terapi tingkah laku, teknik ini digunakan untuk menghapus tingkah laku yang diperkuat secara negatif, dan menyertakan pemunculan tingkah laku atau respon yang berlawanan dengan tingkah laku yang hendak dihapuskan itu. Desensitisasi diarahkan kepada mengajar klien untuk menampilkan suatu respon yang tidak konsisten dengan kecemasan. Teknik ini dikembangkan oleh Wolve yang berargumen bahwa segenap tingkah laku neurotik adalah ungkapan dari kecemasan dan bahwa respon kecemasan bisa dihapus oleh penemuan respon-respon yang secara inheren berlawanan dengan respon tersebut. Dengan pengkondisian klasik, kekuatan stimulus penghasilan kecemasan bisa dilemahkan dan segala kecemasan bisa dikendalikan dan dihapus melalui pergantian stimulus, Gerald Corey (Nafsiah Ibrahim, 1996:118)

Desensitisasi juga melibatkan teknik-teknik relaksasi. Klien dilatih santai dan mengasosiasikan keadaan santai dengan pengalaman-pengalaman pembangkit kecemasan yang dibayangkan atau dievaluasi (Nafsiah Ibrahim, 1995:118).

b. Teknik Inplosif dan Pembanjiran

Teknik yang dikembangkan oleh Stamfel disebut terapi inplosif. Terapi inplosif berasumsi bahwa tingkah laku neurotik melibatkan penghindaran terkondisi atas stimulus penghasilan kecemasan, Geald Corey (Nafsiah Ibrahim, 1996:118). Teknik ini berlandasakan kepada paradigma penghapusan eksperimental. Teknik ini terdiri atas pemunculan stimulus dalam kondisi berulang-ulang tanpa memberikan penguatan. Tenik pembanjiran tidak menggunakan agen pengkondisian balik walaupun tingkatan kecemasan. Terapis memunculkan stimulus-stimulus penghasil kecemasan yang berulang- ulang dalam satu rangkaian seting terapi dimana konsekwensi-konsekwensi yang diharapkan dan menakutkan tidak muncul, stimulus yang mengancam, kehilangan daya menghasilkan kecemasannya dan neurotikpun terhapus.

c. Teknik Latihan Asertif

Teknik ini diterapkan pada individu yang mengalami kesulitan menerima kenyataan bahwa menegaskan diri adalah tindakan  yang layak benar. Latihan atau teknik ini membantu orang yang :

–         Tidak mampu mengungkapkan kemarahan atau perasaan tersinggung

–         Memiliki kesulitan untuk mengatakan tidak

–         Dan bentuk lainnya

d. Teknik Aversi (Hukuman)

Teknik ini paling kontroversial yang digunakan oleh para behavioris, meskipun secara luas digunakan untuk mengubah tingkah laku maladapted kepada tingkah laku yang diinginkan.

Dalam seting formal teknik ini biasanya digunakan untuk pemakai narkoba, peminum alkohol, perokok keras. Anak tidak dilarang merokok dan meminum minuman yang sudah diberi ramuan yang membuat mual dan membuatnya muntah. Karena menimbulkan rasa tidak enak, lama-lama keinginan untuk merokok dan meminum alkohol akan berkurang dan hilang.

e. Teknik Pengkondisian Peran

Menurut Skinner (Nafsiah Ibrahim, 1996:121),  jika suatu tingkah laku diganjar kemungkinan muncul kembali tingkah laku tersebut akan tinggi. Prinsip perkuatan yang menerangkan pembentukan, pemeliharaan atau penghapusan pola-pola tingkah laku, merupakan inti dari pengkondisian peran.

  1. Kegunaan Terapi Tingkah Laku

Terapi tigkah laku dapat digunakan dalam menyembuhkan berbagai gangguan tingkah laku dari yang sederhana hingga yang kompleks, baik individu atau kelompok. Di samping itu terapi tingkah laku dapat dilaksanakan oleh guru, pelatih, orang tua atau pasien itu sendiri.

Baca Juga  RPP Tematik Tunadaksa "Indahnya Kebersamaan" Kelas V di SLB

PENUTUP

A) KESIMPULAN

  1. Secara etimologi tunalaras terdiri dari kata tuna yang berarti cacat atau rusak dan laras yang berarti perilaku atau tingkah laku, banyak istilah-istilah mengenai tunalaras antara lain: mental illness, emotional distubance, emotional disorder, emotional handicap, social maladjusment, Rosenber (Nafsiah Ibrahim, 1996:4).
  2. Anak tunalaras adalah seorang anak yang memiliki gangguan atau penyimpangan baik emosi ataupun tingkah laku sehingga dibutuhkan layanan pendidikan khusus untuk menunjang prestasinya.
  3. Namun pendidikan saja tidak cukup untuk menunjang prestasi anak tunalaras sehingga diperlukan layanan tambahan yaitu berupa terapi tingkah laku.
  4. Tujuan Terapi Tingkah laku adalah menghilangkan perilaku yang tidak dikehendaki dan memunculkan perilaku yang diharapkan
  5. Terapi tingkah laku bertujuan untuk menghilangkan perilaku yang tidak dikehendaki dan memunculkan tingkah laku yang dikehendaki. Terapi tingkah laku memiliki ciri-ciri dan berbagai teknik.

B) SARAN

Terapi Tingkah laku penting untuk diketahui oleh mahasiswa pendidikan luar biasa karena terapi tingkah laku berfungsi untuk memberi layanan bagi anak tunalaras yang merupakan bidang kajian dari pendidikan luar biasa. Prosedur terapi tingkah laku sebaiknya dilakukan secara benar agar anak mengalami kemajuan.

DAFTAR PUSTAKA

  • Syamsi, Ibnu. 1996. Orthopedagogik Tunalaras I. Yogyakarta: FKIP IKIP
  • Ibrahim, Nafsiah & Aldy, Rohaba. 1996. Etiologi dan Terapi Anak Tunalaras. Jakarta: FIP IKIP
  • Rogers, Bill. 2004. Behavior Recovery. Jakarta: PT Grasindo Anggota Ikapi.
  • Google,com

 

Makalah ini diambil dari tugas mata kuliah pendidikan anak tunalaras berjudul:

TERAPI PERILAKU (BEHAVIOR THERAPY) BAGI ANAK TUNALARAS

Oleh:

Krisnanto Try Sutrisno

PLB/FIP/UNY

12103244005

Email : Krisnantotrys15@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *