Asesmen Anak Berkebutuhan Khusus ABK Untuk Konferensi Kasus

By | Juni 26, 2018

Berikut adalah laporan asesmen anak berkebutuhan khusus atau biasa disebut peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK) yang dapat digunakan untuk konferensi kasus /case conference. Konferensi kasus sendiri dilakukan agar hasil asesmen yang dipaparkan dapat diperbaiki dan disempurnakan setelah diberi masukan oleh ahli ataupun guru sehingga apa yang telah disusun dapat diterapkan dengan baik pada ABK atau PDBK, semoga bermanfaat.

Ilustrasi Konferensi Kasus Asesmen ABK via ebrjournal.net

Nama Sekolah             : Sekolah Luar Biasa (SLB) X

Alamat                          : Jalan Y, Kota N

I      Informasi Umum

Nama Siswa                       : MY

Alamat, No telp.                : Xyz

Kelas                                    : 1 SDLB Tunadaksa (D)

Tanggal lahir/usia            : 10 Maret 2005

Jenis kelamin                     : Laki-laki

Nama guru                         : NM

II    Tujuan Asesmen              :

            Menemukan kelemahan dan kekuatan siswa dari berbagai aspek. Sehingga nantinya dapat digunakan sebagai dasar pembuatan program pembelajaran indiviadual (PPI) ataupun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) bagi siswa tersebut.

III   Masalah yang dihadapi Guru Kelas

Akademik/pra akademik  :

  1. Artikulasi

Masalah yang dihadapi guru dalam pembelajaran yakni pada kemampuan artikulasi. Hal tersebut dikarenakan kondisi anak yang mengalami cerebral palsy. Ketika anak berbicara beberapa kata yang keluar nampak tidak jelas dan terbatah-batah, sehingga terkadang guru sulit untuk menangkap maksud maupun keinginan yang disampaikan anak.

  1. Menulis

Kondisi yang dialami anak menyebabkan kemampuan motorik mengalami masalah. Sebenarnya anak mampu mengenal huruf a-z dengan baik ketika asesor menggali data anak. Tetapi ketika anak diminta menulis nampak tulisan sangat besar dan tidak teratur. Hal tersebut juga menjadi perhatian guru agar tingkat keterbacaan tulisan anak semakin baik.

  1. Berhitung

Pada kemampuan berhitung anak pada saat ini sudah mampu melakukan operasi penjumlahan satuan dengan satuan dan puluhan dengan satuan dengan hasil bawah angka 15. Tetapi pada penjumlahan dengan teknik menyimpan masih dibantu oleh guru.

Kompensatoris

  1. Bina Gerak

Anak sudah mampu berdiri dan berjalan dengan alat, sehari-hari anak juga mampu bermain bersama temannya  dengan bergerak.

Baca Juga  6 Tips Memperbaiki Postur Tubuh Agar Tegak dan Percaya Diri

IV   Masalah yang dihadapi orangtua

            Berdasarkan hasil wawancara, masalah yang dihadapi orang tua antara lain pada mobilitas anak, kemampuan bina diri: berpakaian, memakai sepatu. Kemudian pada kemampuan activity daily living (ADL): makan, minum, kebersihan badan, hampir semua kegiatan tersebut anak masih dibantu.

Namun orang tua memiliki harapan agar anak mampu berjalan tanpa bantuan alat. Selain itu orang tua juga memiliki harapan agar anak suatu saat mandiri, karena belau menyampaikan bahwa semua orang akan meninggal. Sehingga apabila orang tua sudah meninggal, anak mampu hidup sendiri dan tidak membebani siapapun.

V    Informasi yang dibutuhkan :

  1. Informasi mengenai riwayat kelahiran anak.
  2. Informasi mengenai kemampuan kognitif.
  3. Informasi mengeni kemampuan motorik, baik motorik kasar maupun halus.
  4. Informasi mengenai kemampuan akademik.
  5. Informasi mengenai kemampuan bahasa.
  6. Informasi mengenai interaksi sosial, emosi, dan perilaku.
  7. Informasi mengenai kemampuan ADL

VI   Hasil Assesmen dan analisis kasus

Assesmen lengkap yang diterima dari ahli:

Anak sehari dalam satu minggu rutin mengikuti fisioterapi di sekolah.  Durasi waktu terapi yakni sekitar 15-20 menit. Dari mengikuti terapi tersebut dijelaskan bahwa kondisi kaki anak  bagus namun mengalami kelemahan di punggung, anak sudah dapat berdiri dan berjalan dengan bantuan alat. Ahli fisioterapi memberikan treatment penanganan fokus pada punggung, pergelangan kaki ke lutut, pinggul ke pinggang.

Hasil Assesmen dari Guru Khusus

  1. Aspek motorik

Motorik kasar

Kemampuan motorik kasar pada anak yakni diantaranya anak sudah mampu mengangkat kepala, duduk di kursi dengan tegak, membalik tubuh dari terlentang ke tengkurap dan sebaliknya, bangkit dari tidur dengan kepala tegak, duduk tanpa pegangan, berdiri dengan pegangan, bangkit terus duduk, melempar bola baik dengan menggunakan tagan kanan maupun kiri dengan arah atas, depan, kanan, maupun kiri, menangkap bola dengan dua tangan, merangkak dalam terowongan, kemudian anak juga mampu memukul bola dengan kedua tangan (kanan dan kiri) baik tanpa alat maupun dengan alat dengan catatan bola berada di lantai.

Dari berbagai kemampuan yang dimiliki anak seperti yang telah penulis uraikan diatas. Pada motorik kasar anak memiliki kelemahan pada beberapa hal antara lain belum mampu berdiri sendiri tanpa pegangan, ketika berjalan nampak anak masih menggunakan lutut, anak juga memiliki kelemahan pada kemampuan melompat, menendang bola,dan kegiatan lain yang melibatkan kaki.

Motorik halus

Kemampuan motorik halus hingga saat ini anak sudah mampu memegang benda yang tidak terlalu kecil seperti alat tulis, memindahkan benda, menaruh benda, membuka maupun menutup jari, menggoyangkan ibu jari, mencontoh bentuk lingkaran, bentuk plus, maupun bentuk persegi, selanjutnya anak juga sudah mampu meremas dan merobek kertas.

Pada motorik halus, anak memiliki kelemahan yakni belum mampu mengambil benda kecil seperti manik-manik, membuat menara kubus, menggambar bagian anggota tubuh, serta menggunting garis baik garis lengkung, zigzag, serta pola tertentu.

  1. Aspek kognitif

Pada kemampuan kognitif anak hingga saat ini dapat berkembang dengan baik. Pada aspek diskriminasi, anak sudah mampu memahami konsep diskriminasi, baik mendiskriminasi objek berdasarkan warna, bentuk, ukuran, arah, maupun tekstur. Kemudian pada aspek klasifikasi, anak sudah mampu memahami konsep klasifikasi, baik mengklasifikasi objek berdasarkan warna, bentuk, ukuran, arah, maupun tekstur. Untuk aspek ordering dan seriasi, anak sudah mampu memahami konsep ordering dan seriasi, baik mengurutkan objek berdasarkan warna, bentuk, ukuran, arah, maupun tekstur. Pada aspek korespondensi dan yang terakhir pada aspek konservasi

  1. Aspek akademik

Pada aspek akademik seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, pada kemampuan berhitung, anak sudah mampu mengenal operasi penjumlahan hingga 15, kemudian pada kemampuan menulis siswa sudah mampu mengenal huruf dan menulis kalimat dengan ukuran huruf yang cukup besar. Pada kemampuan membaca anak sudah mampu membaca kalimat tetapi guru harus lbeh fokus untuk memdengarkan karena suara yang terdengar kurang jelas sebagai dampak dari kondisi CP yang dialami.

  1. Aspek bahasa

Dalam aspek bahasa dan berbicara, siswa mampu memahami instruksi dan arahan dari guru, paham akan penjelasan yang diberikan. Namun dalam hal berbicara siswa belum mampu berbicara dengan jelas dan teratur masih belum jelas sehingga sulit dimengerti oleh lawan berbicara.

  1. Aspek sosial, emosi, dan perilaku

Pada aspek sosial anak dapat berkembang dengan baik. Anak mampu bergaul dengan baik ketika berada di kelas maupun di luar kelas. Sehari-hari anak juga sering bermain bersama teman-teman seperti permainan memukul bola ataupun bowling di lantai. Anak juga dikenal merupakan siswa yang periang dan rajin. Kemudian pada aspek emosi anak dapat duduk tenang di kelas, mampu memperhatikan ketika pembelajaran di kelas, jarang menangis, dan memiliki kemauan keras.

Baca Juga  12 Tips Berkomunikasi Dengan Penyandang Tunarungu
  1. Aspek activity daily living (ADL)

Hampir seluruh kemampuan ADL anak masih dibantu oleh orang tua seperti makan, minum, mandi, maupun kegiatan yang lain. Tetapi sudah dapat pergi ke kamar mandi sendiri dan melakukan kegiatan mencuci tangan sendiri.

Informasi penting lainnya (kalau ada):

VII Rekomendasi :

Berdasarkan hasil identifikasi dan asesmen yang telah dilakukan kepada anak, maka untuk meningkatkan kemampuan anak asesor merekomendasikan berikut ini :

  1. Menggunakan media-media papan tempel untuk mempermudah anak memahami materi serta melatih motorik halus anak melalui kegiatan menempel.
  2. Penggunaan metode bermain dan kompetisi antar teman untuk meningkatkan kemampuan anak serta memotivasi anak.
  3. Memberikan latihan untuk meningkatkan kemampuan anak dalam operasi hitung penjumlahan dan pengurangan.
  4. Memberikan latihan untuk pengembangan fisik

VIII     Tujuan Tahunan

Program yang dirancang ini diharapkan akan mampu meningkatkan kemampuan anak atau memberikan perubahan yang lebih baik pada anak. Tujuan yang ingin dicapai selama satu tahun yang akan datang adalah :

Akademik/Pra akademik:

  • kemampuan berhitung hingga 20
  • Menulis dengan huruf yang lebih kecil

Kompensatoris:

  • Mampu berjalan dengan alat dengan jarak yang lebih panjang
  • Pengembangan fisik

 

YK,…………………..

Pembuat:

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *